Trabas Merdeka XV, Pengembaraan di Petilasan Prabu Siliwangi dan Sejarah TM

By Bona 30 Agu 2017, 15:14:05 WIB Adventure
Trabas Merdeka XV, Pengembaraan di Petilasan Prabu Siliwangi dan Sejarah TM

Trabas Merdeka XV, Pengembaraan di Petilasan Prabu Siliwangi

Trabas Merdeka atau yang biasa disebut TM merupakan kegiatan yang tidak bisa terpisahkan dari komunitas Trail Adventure Bandung Association (TRABAS). Seperti yang baru saja diselengarakan pada hari Sabtu-Minggu (26-27/8) lalu. petualangan para penggemar trail adventure ini dimulai dari situs Ciung Wanara yang merupakan petilasan Prabu Siliwangi menuju Sumedang yang diyakini merupakan lokasi Makam Prabu Siliwangi.

Acara yang dilaksanakan dalam rangka merayakan HUT RI ke-72 ini berlangsung selama 2 hari. Dimulai dari hari Sabtu dengan menempuh rute Ciung Wanara, Ciamis Menuju Kampung Adat Kuta, Nini Ganas, Rancah dan finish di kawasan wisata Situ Panjalu.

Sedangkan pada hari Minggu, para offroader berangkat dari Situ Panjalu dan memalui jalur Sukamantri, Lemahsugih, Jadi Gede, Kampung Toga dan finish dikota Sumedang. Jalur yang dilalui adalah petilasan dari Prabu Siliwangi, penguasa kerajaan Pajajaran yang menguasai Jawa Barat pada waktu dulu.

 

Sejarah Trabas Merdeka

Patut diketahui, Cikal bakal event TM ini melalui lika-liku penuh drama, mulai dari kesulitan menentukan jalur, konflik beda pandangan penyelenggaraan, safety yang buruk, hingga dikenal jalur ‘jalur milik Alloh’ bagi yang mengalami musibah di jalur, dikembalikan ke Ilahi.

Dani Ceuyah salah seorang anggota Trabas angkatan lama bercerita. Dimulai awal 1998 dengan motivasi kesukaan bermain bersama-sama penyuka trail adventure di Bandung. Iwan Ablehlah yang mengawali event ‘jual jalur’. Penggarapan event saat itu jauh dari manajemen yang baik, dikarenakan tidak mengerti prosedur penggarapan event dan keselamatan.

Motivasi lain adalah ingin bermain gratis, dengan cara peserta membiayai panitia. Harga tiket yang dijual antara Rp. 250.000., hingga Rp. 350.000., temasuk kaos event, makan malam satu kali. Selebihnya jalur bebas, tanpa pengelolaan keamanan baik di jalur maupun pelayanan penyelenggaraan.

Teknis pelaksanaan hanya disiapkan road captain sebagai penunjuk jalur yang disebut ‘leader’. Selebihnya bagi yang tertinggal silahkan cari jalan sendiri. Inilah yang disebut jalur ‘sapaehna’.

Dalam prakteknya yang tersasar, salah jalur atau pulang kembali dianggap biasa. Saat itu tugas panitia hanya menyiapkan lintasan, tanpa penunjuk arah, rambu lalu lintas atau safety. Teknis pelaksanaan diserahkan kepada leader dan sweaper.

Bahkan pernah saat Arya Kamijaya yang ditunjuk sebagai leader tidak tahu persis arah yang akan dituju. Sehinga sebagian peserta tidak pernah tiba di lokasi finish. “Saya juga gak tau jalur, ini mah event sekalian survey jalur aja” beber Arya sekenanya pada saat itu.

Untuk urusan pertolongan peserta yang tercecer, disapu oleh mang Uhi Herlia atau MU dengan gaya suka-suka. “Yang tertinggal di sini, hati-hati minimal patah jari, yang terakhir patah kaki” celetuk Mang Uhi membangkitkan semangat partisipan event pada saat itu.

Bergeser ke tahun 2003, event TM pertama berawal dari Mall Sultan Plaza Cihampelas, Bandung dan finish di Batukaras, Pangandaran. Disini panitia mulai merencanakan pengelolaan event, dengan mengatur jalur lebih baik dari sebelumnya. Namun pada pelaksanaannya safety masih jauh dari yang dikatakan layak.

Menurut Duddy Dewa salah seorang anggota Trabas, saat itu jalur dibuat memotong target finish di Batukaras. Sehingga alhasil beberapa jalur harus melewati tebing curam yang berbatasan langsung dengan sungai Cijulang. Jalur yang dilalui saat itu tanpa pengamanan yang layak. “Untung weh euweuh anu maot (Red: Untung saja gak ada yang mati)” celetuk Dewa.

Semakin besar tuntutan keselamatan perjalanan dan semakin besar tanggung jawab panitia, melalui event TM ke-2 pada 2004, Dana ‘Ranca’ Supriatna mulai bebenah. Dengan membekali para peserta pada saat ‘Tekhnical meeting’, kondisi jalur pun banyak dijelaskan. Para partisipan dibekali dengan booklet kecil yang berisi informasi jalur, dan nomor kontak penting, termasuk panitia lapangan yang bertanggung jawab.

Begitu juga dengan manajemen jalur lintasan yang mulai dipetakan, dikenalkan oleh Andri ‘Wanadri’ melalui penyusunan jalur menggunakan visualisasi peta topografi, terutama penyusunan survey lintasan. (Bona)

Credit : Dani Ceuyah

 

Berikut rangkaian kegiatan TM yang diselenggarakan setiap tahun tanpa putus:

Tm 1 ( 2003 ) bandung – batukaras

Tm 2 ( 2004 ) bandung – curug 7 – pangandaran

Tm 3 ( 2005 ) bandung – muara cikaso – Pelabuhan ratu

Tm 4 (2006 ) bandung – lemah sugih- Linggar jati

Tm 5 ( 2007) bandung – kawali – pangandaran

Tm 6 (2008 ) bandung – bungamelur-Pelabuhan ratu

Tm 7 (2009 ) ciater – jatigede – waduk darma

Tm 8 ( 2010 ) sukabumi – cisitu – bandung

Tm 9 ( 2011 ) cianjur – jatiluhur – bandung

Tm 10 ( 2012 ) bandung – cipatujah – pangandaran

Tm 11 ( 2013 ) Sukabumi- pelabuhanratu – Bageddur- ujungkulon

Tm 12 ( 2014 ) Sukabumi – ujunggenteng-Sindang barang

Tm 13 ( 2015 ) Sukabumi – pelabuhanratu-Ujung genteng

Tm 14 ( 2016 ) jatiluhur- ciwidey – pantai jayanti

Tm 15 ( 2017 ) Cing Wanara Ciamis – Panjalu – Sumedang




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment